Tips Berbisnis di Lingkungan Perumahan

Dewasa ini, perkembangan perkotaan sudah sangat berubah bila dibandingkan keadaan 15 atau 20 tahun yang lalu. Berbagai kawasan pinggiran kota terutama kota-kota besar, telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi apa yang disebut dengan kawasan satelit.

Banyak sekali kompleks-kompleks perumahan di bangun di sana, lalu tumbuh kembang menjadi kantong-kantong bisnis. Sebagai contoh, di Jakarta kita kenal sejumlah kawasan yang telah menjadi kantong bisnis, seperti Serpong, Puri Kembangan, Kelapa Gading, Cibubur, Depok, Bekasi, Tangerang, Cinere dan lain sebagainya.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman dari para pelaku usaha di kawasan satelit. Dari tahun ke tahun, ternyata ada beberapa karakter tertentu yang menjadi ciri khas lingkungan perumahan yang sudah selayaknya mendapatkan perhatian, bila kita berkeinginan untuk berbisnis di sana.

Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian itu terkait beberapa aspek, meliputi aspek geografis, aspek demografis, serta aspek produk atau komoditas yang dijual.
Berikut adalah tips-tips nya :

1. Kompleks-kompleks Perumahan Tertentu Ternyata Kosong Pada Hari Kerja Biasa
Banyak di antara kita berasumsi bahwa timbulnya berbagai kompleks perumahan baru, akan menjanjikan prospek bisnis yang cukup menggiurkan. Apalagi beberapa di antaranya perumahan kalangan menengah ke atas, maka kita akan berfikir para penghuninya memiliki daya beli tinggi.

Berdasar hal itu, timbullah niat untuk mencoba usaha di sekitar perumahan dimaksud.
Akan tetapi, kalau tidak jeli, kenyataan tersebut bisa menyesatkan. Sebab, banyak kompleks- pemukiman baru di pinggir kota dihuni oleh keluarga muda, yang tadinya tinggal bersama orang-orang tua di pusat kota. Dan, hampir semuanya memiliki pekerjaan di pusat kota juga.

Akibatnya, pada hari-hari kerja biasa (Senin – Jumat), kompleks-kompleks perumahan itu nyaris kosong. Mereka pergi ke pusat kota untuk bekerja, dan baru kembali pada malam hari. Umumnya, setiba di rumah, mereka tidak ada keinginan keluar rumah, karena lelah bekerja seharian. Mereka hanya ingin cepat istirahat untuk kembali kerja esok paginya.

Dengan begitu, potensi bisnis di sekitar perumahan itu menjadi kurang menjanjikan. Aktivitas kehidupan baru kelihatan dinamikanya hanya pada “week-end days” yaitu, Sabtu dan Minggu saja. Otomatis, keadaan itu tidak kondusif untuk menjalankan bisnis yang serius.

2. Perhatikan Kompleks Perumahan Baru dan Kompleks Perumahan Lama
Di kawasan satelit tertentu yang cukup lama berdiri, biasanya ada kompleks-kompleks perumahan yang telah lama dibangun, dan ada juga yang relatif masih baru. Nah, dalam hal ini, seyogyanya kita bisa membuat perhitungan-perhitungan.

Pada pemukiman yang masih baru, umumnya para penghuni yang tinggal di sana juga merupakan keluarga-keluarga muda. Sebagaimana telah disinggung di atas, para penghuninya hampir pasti adalah orang-orang yang bekerja di pusat-pusat kota, atau di tempat lain yang relatif jauh dari perumahan tersebut. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa perumahan akan sepi penghuni pada hari-hari kerja biasa. Dengan sendirinya, kita bisa menganggap lingkungan perumahan itu kurang berpotensi bisnis.

Sebaliknya, pada kompleks-kompleks yang telah lama dibangun, kemungkinan besar penghuninya sudah cukup senior dan sebagian mungkin sudah memasuki masa pensiun. Ada harapan, sudah banyak pula remaja yang tinggal dan bersekolah di sana. Dengan demikian, suasana kehidupan di pemukiman semacam ini lebih hidup, dan aktivitas bisnis lokal warga juga sudah mulai terbentuk.

Untuk kompleks pemukiman yang telah “established” seperti ini, kita dapat menaruh harapan lebih besar. Bahwasanya, bila kita mendirikan usaha di sana, peluang untuk maju lebih besar.

3. Perhatikan Kompleks Perumahan Pendatang VS Perumahan Warga Asli
Dalam satu daerah yang berkembang menjadi kawasan satelit, di antara kompleks perumahan baru, ada pula perumahan warga asli yang sudah tinggal selama puluhan tahun. Sebagian sudah agak mapan, sebagian lagi masih berstatus “kampung”.

Yang perlu kita cermati adalah, jangan menganggap remeh pemukiman warga asli. Sebab, di beberapa tempat tertentu, pemukiman warga asli ini justru penopang kehidupan warga pendatang di kompleks perumahan baru. Yang sudah sering terjadi misalnya, adalah kebutuhan pengurusan dokumen kependudukan warga pendatang. Pada umumnya, akan ditangani tokoh pemerintahan lokal, seperti RT dan RW di pemukiman warga asli tersebut.

Banyak dari lokasi pemukiman warga asli adalah lokasi-lokasi yang mapan secara bisnis. Di tempat-tempat seperti ini, kehidupan bermasyarakat sudah berjalan sangat memadai. Sehingga, justru di lokasi inilah akan lebih dimungkinkan untuk membuka usaha. Ini mudah dimengerti, karena di pemukiman yang sudah terbentuk, tidak ada fenomena kosongnya perumahan karena ditinggal penghuni yang bekerja di pusat kota.

4. Perhatikan Pertumbuhan Kawasan, Adakah Kantor, Sekolah, Rumah Sakit, Pabrik dan Lain-lain?


Pertumbuhan potensi bisnis suatu kawasan dapat dilihat dari perkembangan infrastruktur serta propertinya. Kita bisa lihat adakah di sana dibangun perkantoran, pertokoan, sekolah-sekolah, rumah sakit, pabrik dan lain sebagainya.
Lihatlah dengan jeli, tidak sebatas melihat keberadaan bangunan-bangunan tersebut, tapi juga harus melihat kesibukan di dalam dan sekitarnya. Sebab, di beberapa kawasan, banyak kantor, toko-toko, bahkan sekolah dan rumah sakit yang sepi pengunjung.

Bisa disimpulkan, bahwa kebanyakan dari pelaku-pelaku usaha yang membangun toko-toko dan sebagainya itu, terkecoh dengan keberadaan berbagai perumahan di sana. Ternyata, perumahan-perumahan dimaksud, selalu sunyi di hari-hari kerja biasa sehingga aktivitas bisnis pun tidak dapat berjalan sebagaimana diharapkan.

5.Perhatikan Jalan Jalur Cepat, Jalur Lambat, Jalur Perlintasan dan Kawasan Rendezvous
Apabila memutuskan mendirikan usaha di kawasan tertentu, lebih jauh perlu diperhatikan letak dari tempat usaha itu sendiri.

Tempat yang ramai belum tentu berpotensi baik untuk bisnis. Sebaliknya, lokasi yang sepi, belum tentu juga jelek untuk melakukan usaha.

Kita harus lebih memperhatikan fenomena-fenomena yang “menyesatkan”. Ada tempat usaha yang letaknya di pinggir jalan besar yang selalu ramai, seakan-akan berada di lokasi yang strategis. Tapi pada kenyataannya, tempat usaha itu sendiri tidak bisa ramai. Kenapa?

Ternyata, keletakannya ada di “jalur cepat”, yaitu di sebuah ruas jalan yang memang ramai kendaraan, namun merupakan jalur perlintasan. Kendaraan-kendaraan melesat dengan kencangnya sehingga tidak ada peluang orang memperhatikan unit usaha di tepi jalan. Maka, perlu dipertimbangkan mencari lokasi bisnis yang letaknya di pinggir jalan besar yang ramai, tapi kendaraan melintas dengan kecepatan lambat.

Di lain sisi, kita juga harus memperhatikan suasana sekitar. Bila suasana sekitar gelap, tidak ada penerangan yang memadai, ditambah lagi tidak ada pula tetangga yang berjualan, hampir pasti lokasi itu juga kurang bagus.

Ciri-ciri lokasi usaha berpeluang bagus adalah, tempat tersebut ramai dengan kesibukan belanja. Banyak sekali pedagang di sana, meliputi ruko-ruko yang dipakai untuk toko kelontong, rumah makan, bank, dan biasanya, pada sore hari terdapat juga semacam “pasar kaget”, berupa tenda-tenda yang biasanya didominasi pedagang makanan.

Untuk daerah-daerah semacam itu, potensi bisnis dalam radius 500 meter sekitarnya biasanya cukup baik.

Kalau kita kesulitan mendapatkan di lokasi ramai seperti di atas, dan tetap ingin berbisnis, itu masih mungkin. Asalkan kita perhatikan kompleks perumahan itu karakternya seperti apa, adakah itu pemukiman keluarga muda yang kosong pada hari kerja, atau merupakan kawasan residensial yang mapan.

Kalau kita tinggal dekat kawasan industri, yang di situ banyak dihuni karyawan pabrik, maka kemungkinan sekali potensi bisnisnya cukup menjanjikan. Sebab, karyawan pabrik termasuk golongan penghuni yang berkesibukan lokal, berkeluarga yang kesibukannya juga lokal. Dengan demikian, aktivitas bisnis setempat pun cepat terbentuk.

6. Produk, Komoditas Yang Dijual Serta Layanan Pesan-Antar

Berikutnya soal produk atau komoditas yang akan dijual. Di kawasan semacam ini, berlaku juga “perilaku konsumen” yang menginginkan ketersediaan produk-produk tertentu.

Bidang-bidang usaha yang mendapat respon positif biasanya berhubungan dengan kebutuhan warga yang tinggal di daerah baru. Bidang-bidang tersebut meliputi makanan (restoran, rumah makan, tempat jajan), pelayanan kesehatan (klinik, praktek dokter 24 jam), otomotif (bengkel dan/atau suku cadang motor dan mobil), toko material bangunan, toko kelontong (kebutuhan sehari-hari), pendidikan anak (sekolah dan kursus-kursus), salon perawatan kecantikan, showroom mobil dan motor.

Ada juga yang agak sedikit khas, yaitu pelayanan internet lokal berbasis wireless, layanan TV berbayar via satelit (karena layanan broadband via kabel serat fiber biasanya belum menjangkau daerah pinggir kota), serta keagenan media cetak.
Last but not least, yaitu layanan pesan antar! Seperti diketahui, keberadaan perumahan di kawasan satelit adalah disebabkan kebutuhan tempat tinggal bagi kaum muda yang bekerja di kota.

Mereka adalah pekerja keras yang selalu lelah setibanya di rumah. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan layanan pesan antar untuk memenuhi kebutuhannya. Termasuk dalam hal ini adalah kebutuhan makanan dan minuman, barang kelontong, binatu (laundry) dan sebagainya.

Kalau kita mau sedikit cerdas, jalankanlah layanan pesan antar ini, maka peluang untuk berhasil naik sekitar 40 – 50%. Maka, jangan heran kalau di kawasan perumahan baru, ada rumah makan atau toko yang sepi pengunjung, tapi tetap eksis. Ternyata, usaha mereka lebih banyak didukung oleh layanan pesan-antar ini. Selamat mencoba!
(Rusman Hakim)

0 komentar:

Recent Post



Recent Comment

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP