Menjajaki Prospek Bisnis Otomotif di Kawasan Satelit

Bagi mereka yang tinggal di kawasan pinggiran kota besar, atau biasa disebut dengan daerah suburb, masalah transportasi terasa lebih memberatkan dibanding mereka yang tinggal di tengah kota.

Betapa tidak, sebagian besar warga rata-rata masih memiliki kegiatan di pusat kota, entah itu bekerja atau berbisnis. Jarak yang jauh serta waktu tempuh yang panjang, mengharuskan mereka berangkat pagi-pagi sekali menggunakan alat transportasi apa pun yang dapat mereka gunakan, kalau tidak mau terlambat tiba di tempat tugas.

Mereka yang tidak sanggup bertarung memperebutkan sedikit tempat di kendaraan umum guna pergi bekerja, dengan berbagai cara, berusaha membeli kendaraan pribadi, baik roda empat mau pun roda dua.

Konsekuensinya, pertumbuhan populasi kendaraan akan meningkat. Dalam beberapa tahun saja, angka tersebut bisa mencapai ribuan, bahkan puluhan ribu. Menurut data Badan Pusat Statistik, sampai tahun 2005 lalu, jumlah kendaraan penumpang roda empat sudah mencapai 5,6 juta unit lebih. Sedang kendaraan roda dua berkisar 28,5 juta. Sebagian besar beroperasi di daerah perkotaan dan sekitarnya.

Namun demikian, di balik setiap permasalahan selalu saja ada berkah dan hikmah. Ini yang disebut dengan “blessing in disguise”. Bagi warga pinggiran yang barangkali sudah jenuh dan bosan pergi bekerja di pagi-pagi buta, situasi ini justru menawarkan sebuah peluang bisnis yang cukup menjanjikan.

Seperti diketahui, ada beberapa jenis bidang usaha (bisnis makanan, toko material bangunan, dan sebagainya) yang layak dijalankan di kawasan pemukiman baru di pinggir kota. Semua peluang usaha itu berkaitan dengan kebutuhan penduduk di kawasan tersebut.

Nah, bidang transportasi pun merupakan salah satu “kebutuhan primer” bagi warga, utamanya mereka yang mobilitasnya tinggi.

Kalau bicara tentang bisnis berskala UKM (Usaha Kecil Menengah), mendirikan bengkel kendaraan bermotor roda empat mungkin agak lebih memberatkan karena memerlukan investasi relatif besar. Oleh sebab itu, membangun usaha bengkel kendaraan roda dua (sepeda motor) akan lebih sesuai, utamanya bagi mereka yang memang baru memulai karir sebagai wirausahawan.

Bagaimana Gambaran Minimum Untuk Membuka Bengkel Sepeda Motor?
Menurut mereka yang sudah menggeluti usaha ini, diperlukan sekitar Rp20 - 25 jutaan rupiah untuk memulainya secara kecil-kecilan. Ini tentu belum termasuk biaya pengadaan tempat usaha.

Untuk yang terakhir ini, akan lebih ideal kalau calon pengusaha bengkel sudah memiliki lahan ala kadarnya, berkisar 50 – 100 meter2. Sebab, kalau tidak begitu, biaya yang dikeluarkan akan semakin membengkak.

Dari sekian banyak yang diperlukan, peralatan kerja standar merupakan kebutuhan pokok yang harus ada. Itu meliputi alat- alat semacam kunci set, konci sok, kunci ring, kunci pas serta kompresor. Kelengkapan peralatan tersebut kira-kira investasinya Rp8 – 10 juta.

Biasanya, pendapatan bengkel motor skala kecil diperoleh dari jasa servis ringan, seperti ganti oli, tune-up atau, penggantian suku cadang. Sedang servis besar seperti turun mesin, boleh dikata agak jarang terjadi.

Tarif jasa servis ringan sekitar Rp20.000 - 30.000-an/sekali penanganan, sedangkan ongkos turun mesin Rp75.000 - 100.000-an (masing-masing tergantung dari jenis kendaraan dan tingkat kesulitan perbaikan).

Sebagai bengkel yang melayani jasa pemeliharaan dan perbaikan, ketersediaan suku cadang yang tergolong perputaran cepat (fast moving component), benar-benar harus diperhatikan. Misalnya, busi, kanvas rem, kawat kopling, ban serta oli, sedapat mungkin dijaga agar selalu tersedia di bengkel. Karena, dengan kesiapan suku cadang pengganti inilah, kecepatan pelayanan akan dapat terjamin. Dan dari sini pula, keuntungan sebesar 10 – 20% dapat diraih.

Bagaimana dengan gaji karyawan?
Gaji karyawan seperti montir atau mekanik, sebenarnya banyak bergantung dari pengalaman dan keahlian mereka. Tapi, diperkirakan rentang gajinya berkisar antara Rp25 – 50 ribu per hari.

Dengan begitu, seorang calon pengusaha bengkel otomotif roda dua tentu sudah mendapatkan gambaran kasar akan seluk beluk operasional dari sebuah bengkel, sehingga ke depan, akan lebih mudah untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.

Konsep Apa Yang Ingin Digunakan?
Secara umum, ada 3 (tiga) hal yang terangkum menjadi sebuah konsep bisnis di bidang otomotif. Hal itu adalah 3S (sales – service – spare parts), meliputi bidang penjualan unit produk, pelayanan pemeliharaan dan perbaikan, serta pengadaan suku cadang. Bila seseorang dapat menjalankan ketiga hal tersebut, maka boleh dikata operasaional usahanya sudah ideal.

Namun demikian, hal itu tidaklah mengikat. Tidak berarti kalau hanya menjalankan 2 di antaranya, lantas usaha tersebut tidak mendatangkan keuntungan yang memadai. Pada kenyataannya, banyak pengusaha bengkel yang maju pesat dengan hanya menggabungkan dua unsur, yaitu “service” dan “spare parts”.

Kenapa? Karena memang bidang pemeliharan/perbaikan terkait erat dengan dukungan pengadaan suku cadang, sehingga bidang usaha ini tidak perlu terpadu dengan penjualan unit produknya sendiri.

Di samping itu, manajemen penjualan produk relatif berbeda dengan manajemen bidang servis dan suku cadang. Sehingga, bagi yang masih baru dalam berbisnis bidang otomotif, ada baiknya memulai dengan dua unsur saja, yaitu “Service and Spare Parts”.

Sebaliknya, kalau Anda sebagai pengusaha UKM ingin menggeluti bidang penjualan produk, saat ini berbagai merek motor sudah pula menyediakan fasilitas “channeling”, yaitu Anda bisa menjual motor merek tertentu hanya dengan menyediakan tempat ala kadarnya yang cukup untuk mengakomodasikan 4 – 5 unit motor.
Anda tidak perlu mengeluarkan dana apa pun untuk membeli produk, karena semua motor yang dipajang seluruhnya disediakan oleh ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek).

Bengkel Umum, Atau Bengkel Khusus?
Ada dua pilihan terkait dengan merek produk yang akan ditangani. Sebagian pengusaha memilih membuka bengkel yang melayani segala macam merek motor. Sehingga klien yang terjaring juga diharapkan akan lebih banyak.

Pertimbangan ini mungkin benar, tapi sebagai konsekuensinya, sang pemilik juga harus menyediakan tenaga-tenaga terampil yang menguasai teknis berbagai merek motor. Yang biasa terjadi adalah, mekanik mungkin menguasai pengetahuan teknis berbagai mereka kendaraan bermotor, namun pada kasus-kasus yang melibatkan hal-hal spesifik dari merek tertentu, pemilik bengkel harus mampu mencari orang yang lebih terspesialisasi.

Masalah mungkin akan lebih sederhana, apabila pengusaha memutuskan membuka bengkel yang khusus menangani mereka motor tertentu. Meski ada kekhawatiran bahwa cakupan yang “segmented” akan memengaruhi jumlah pelanggan. Namun, tingkat keruwetan pelayanan akan jauh lebih rendah, sehingga mutu pekerjaan juga akan lebih terjamin.
Di samping itu, pihak ATPM akan lebih “all out” dalam memberi dukungan kepada pengusaha bengkel yang fokus pada merek mereka.

Swadaya Atau Bermitra?
Calon pengusaha dapat memilih apakah dia mau membuka usahanya sendirian (independen) atau bermitra.

Kalau memutuskan independen alias swadaya, maka ia memiliki kebebasan penuh menentukan segala sesuatunya. Risikonya adalah ia harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Mulai dari mencari suku cadang sampai mencari teknologi yang diperlukan. Otomatis, pengusaha tersebut harus siap menguras lebih banyak energi memutar roda usahanya.

Sebaliknya, apabila memutuskan untuk bermitra, maka yang pertama harus dimaklumi adalah bahwa ia tidak lagi memiliki kebebasan menentukan perusahaan.
Namun demikian, di sisi lain, sang pengusaha akan mendapatkan hal-hal positif yang akan mendongkrak kinerja usahanya jauh lebih baik dibandingkan bila bekerja sendirian.

Bermitra Dengan Pihak ATPM
Salah satu kiat berbisnis bidang otomotif di kawasan satelit adalah bermitra dengan perusahaan ATPM. Beberapa ATPM sudah menggelar program kerja sama untuk mengembangkan jaringan 2S (service and spare parts), bahkan juga 3S (sales-service-spare parts).

Honda misalnya, telah meluncurkan AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) yaitu sebuah program kerja sama dengan jalan memberikan kepercayaan kepada masyarakat membuka bengkel resmi pemeliharaan/perbaikan motor Honda.

Dengan modal awal sekitar Rp50 juta, seorang calon pengusaha bengkel melalui program AHASS, sudah bisa menjalankan usaha bengkel dengan mempekerjakan 3 karyawan, dan setiap bulan sudah bisa memetik penghasilan lumayan.

Honda mengklaim, dengan kerja sama ini, pengusaha bengkel akan sangat diuntungkan, karena semua pendapatan murni menjadi milik sang pengusaha. Alasannya, karena dalam hal ini pihak Honda tidak menerapkan sistem waralaba yang mengharuskan mitranya membayar bea waralaba (franchise fee) atau sejenisnya.

Demikian juga dengan Yamaha. Pabrikan motor asal Jepang ini menawarkan pola kerja sama yang diberi tajuk Yamaha Service Shop (YSS). Mirip dengan AHASS, YSS juga menawarkan kerja sama usaha perbengkelan khusus Yamaha. Persyaratannya antara lain bahwa mitra pengusaha harus mempunyai lahan kerja minimal 100 meter persegi, tidak menjadi distributor atau bengkel resmi pihak lain, dan wajib menyediakan suku cadang asli Yamaha dan oli Yamalube.

Dengan deposit Rp60 jutaan, pengusaha bengkel mitra YSS akan mendapat fasilitas papan nama bengkel, interior bengkel standar Yamaha serta kelengkapan perkakas kerja yang dibandrol dengan harga khusus mitra. Selain itu, bengkel tersebut akan dimasukkan dalam daftar jaringan layanan Yamaha, dan pelatihan teknik untuk mekanik.

Kiat-kiat Pemasaran Yang Inovatif
Mengingat persaingan bisnis yang demikian ketat, maka titik kesuksesan pada akhirnya akan dicapai oleh mereka yang benar-benar tekun bekerja keras, dimotori oleh daya kreativitas tinggi penuh dengan terobosan-terobosan baru.

Oleh sebab itu, pengusaha bengkel, dituntut melakukan hal yang sama guna merealisasikan impiannya menjadi pengusaha bengkel yang berhasil. Berikut ini adalah contoh-contoh terobosan para pengusaha bengkel inovatif :

1. Memberikan Pinjaman Motor Pengganti: Pelanggan yang sepeda motornya terpaksa menginap di bengkel, diberikan pinjaman motor pengganti sementara, sampai miliknya sendiri selesai dikerjakan.
2.Memberikan Keanggotaan Untuk Layanan Mogok Di Jalan: Beberapa bengkel menerbitkan kartu keanggotaan pada pelanggannya, dengan pelayanan panggilan mekanik apabila terjadi mogok di jalan. Pelayanan ini termasuk juga jasa pemeliharaan atau perbaikan panggilan ke rumah.
3. Pelayanan 24 Jam: Ada juga yang memberikan pelayanan 24 jam, termasuk meniadakan jam makan siang karyawan yang biasanya menghentikan antrian pendaftaran untuk permintaan servis.
4. Mengoperasikan Armada Patroli: Layanan ini masih jarang, tapi sudah ada yang menerapkannya. Bengkel memiliki motor khusus yang dilengkapi berbagai peralatan, lalu mekanik berkeliling untuk “memberi rasa aman” kepada para kliennya yang banyak berseliweran di kawasan tertentu.

Nah, tentunya Anda yang berminat mencoba peruntungan dalam bisnis perbengkelan, masih memiliki seabrek kiat-kiat terobosan lain yang akan menunjang program promosi dan pemasaran usaha Anda nantinya. Selamat mencoba !
(Rusman Hakim)

0 komentar:

Recent Post



Recent Comment

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP